Rindu
Judul Buku : Rindu
Penerbit : Republika
Penulis : Tere Liye
Jumlah Halaman : ii + 544 Halaman
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm
Tahun Terbit : Oktober 2014
ISBN : 978-028-997-904
Sinopsis Buku
"Wahai laut yang temaram, apakah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami. Wahai laut lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan. Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun? Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Novel ini mengisahkan sebuah perjalanan ribuan umat manusia, khususnya umat islam dalam melakukan perjalanan yang paling ingin di lakukan oleh umat islam manapun. Perjalanan haji. Menaiki kapal Blitar Holland, kapal uap yang awalnya hanya mengangkut rempah-rempah, namun kini di alih fungsikan sebagai kapal penumpang jamaah haji. Karena lebih menguntungkan dibanding hanya mengangkut rempah-rempah. Perjalanan dimulai dari pelabuhan awal yaitu pelabuhan Makassar, berhenti di beberapa pelabuhan di Nusantara, dengan pelabuhan terakhir Aceh sebelum ke pelabuhan Kolombo.
Adalah Ahmad Karaeng(Gurutta), Daeng Andipati, Ambo Uleng yang menjadi tokoh utama dari cerita ini. Seluruh umat islam dari berbagai daerah di Nusantara yang hendak berangkat haji terkumpul menjadi satu di kapal Blitar Holland. Saling mengenal satu sama lain, saling membantu dalam banyak hal dan tentunya dalam hal positif. Saling membagi ilmu, agar bertambah ilmunya sebelum sampai di tanah suci. Dan kapal itulah yang menjadi saksi bisu terciptanya 5 buah pertanyaan, berdasarkan peliknya kehidupan manusia.
0 komentar: